SELAMAT DATANG DI BLOG RESMI KUMPULAN ARTIKEL MA'HAD MIFTAHUSSALAM BANYUMAS JAWA TENGAH INDONESIA

Rabu, 04 Januari 2012

Dengarkan Anak Kita...!!! [ Bag.5 ]

          Walhamdulillah, di hari yang penuh berkah dan anugerah dari Allah subhanahu wa ta'ala ini, admin bisa kembali melanjutkan pembahasan yang cukup menarik seputar pendidikan anak, naah...kali ini kita akan berbicara masalah yang sebenarnya bisa dikatakan cukup "menyebalkan" bagi anak jika......nanti insya Allah kita bahas.....hehehee....

          Yang pertama, ini sangat penting insya Allah karena terkait dengan pengembangan kepribadian anak yakni, jangan sampai kita mengabaikan anak dengan menyalakan radio atau televisi dan mengalihkan perhatian ketika mereka datang untuk menceritakan pengalaman mereka di sekolah. Ungkapan perasaan yang akan diutarakan anak kepada kita atau derita yang mereka rasakan di sekolah atau mungkin kebahagiaan dan kegembiraan yang dirasakan setelah melihat nilai yang diperolehnya hari itu merupakan hal terpenting dari segala pemikiran yang dapat menyibukkan hati dan pikiran kita.
          Berikanlah perhatian kita kepadanya jika ia mengutarakan tentang nilai ujian mata pelajaran tertentu yang dihasilkan hari itu. Berikanlah motivasi untuk terus meningkatkannya daripada kita tidak memperhatikan dan memperdulikannya sama sekali.
         Jangan sampai, jika suatu hari anak mengadu kepada kita tentang kejadian yang mereka alami di sekolah, seperti, "Temanku memukulku di sekolah," kemudian kita menjawab, "Apa benar jika kamu bukan yang memukul dan menghina lebih dahulu?" Dengan alasan seperti ini, kita benar-benar telah menutup ruang untuk berdialog dengannya, seakan-akan kita berusaha tampil sebagai hakim memposisikan anak kita dengan temannya untuk memutuskan hadiah dan sanksi, mereka bahkan menganggap kita sebagai pemutus yang dzalim karena kita menuduh korban dan menyelamatkan pelaku permusuhan.
Orang tua hendaknya cepat tanggap jika anaknya berbicara lebih dahulu kepadanya kemudian mengajaknya dialog dan selalu berusaha untuk tidak mengkritik serta mengabaikan apa yang ia katakan. Anak adalah perhiasan yang menyejukkan pandangan kita dan bahkan melapangkan hati kita, perhatikanlah matanya saat berkaca-kaca menghampiri kita, mereka berharap sekali kita akan menanggapi keluh kesah yang dirasakannya, atau bahkan ia ingin kita ikut merasakan kebahagiaan yang ia rasakan juga....perhatikanlah...sayangilah.....-Bersambung Insya Allahu ta'ala-

Selasa, 03 Januari 2012

Keluargamu...Lebih Utama....[ Status FB ]

          Syaikh Utsaimin menjelaskan,
“Sebagian orang tatkala bersedekah untuk fakir miskin atau yang lainnya maka mereka merasa bahwa mereka telah mengamalkan amalan yang mulia dan menganggap sedekah yang mereka keluarkan itu sangat berarti.

          Adapun tatkala mengeluarkan harta mereka untuk memberi nafkah kepada keluarganya maka seakan-akan perbuatan mereka itu kurang berarti, padahal memberi nafkah kepada keluarga hukumnya wajib dan bersedekah kepada fakir miskin hukumnya sunnah. Dan Allah lebih mencintai amalan wajib daripada amalan sunnah.” (Sebagaimana penjelasan beliau dalam Riyaadhus Shalihiin)

Bersikap Adil kepada Anak [ Bag. 4 ]

         Para pembaca akromakumulloh....kita langsung lanjutkan....
         Jika suatu hari kita bertanya kepada anak-anak kita, "Nak, apakah engkau mencintai ayah dan ibu?", atau dengan sedikit marah kita bertanya, "Sebenarnya engkau meremehkan ayah dan ibu," ketahuilah wahai para orang tua, bahwasanya anak-anak kita sangat membutuhkan kasih sayang dan kelembutan yang lebih serta tidak membedakannya dengan saudaranya yang lain, tidak mengutamakannya atas yang lain atau memberikan keisbukan kepadanya melebihi yang lain.
          Terkadang, anak suka memukul adiknya dengan geram dan jengkel atau membuang semua barang dan pakaian miliknya. Maka ketahuilah, bahwa sikap semacam ini adalah fithrah yang dipicu oleh perasaan bahwa kehadirang adiknya akan membawa persaingan bagi dirinya terhadap orang tua. Oleh karena itu, hendaknya orang tua selalu bersikap bijaksana dan sabar terhadap keduanya.
          Sikap adil dan tidak memanjakan anak yang lebih kecil terhadap yang besar akan dapat mengurangi banyak problem. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda, "Bertaqwalah kepada Allah dan bersikap adillah kepada anak-anakmu."(HR. Bukhari)
          Dan dalam sebuah riwayat dari Al-Bazzar, dari Annas radhiyallahu 'anhu bahwasanya ketika seorang lelaki sedang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah putranya lalu ia menciumnya dan mendudukannya di atas betisnya, kemudian datang lagi putrinya lalu ia menciumnya dan mendudukan di antara kedua tangannya. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Ketahuilah bahwasanya engkau telah bersikap adil kepada keduanya."
          Seperti inilah kiranya, kesamaan yang dilakukan ketika mencium . Jika salah satunya kita cium, maka hendaknya kita mencium yang lainnya......

Permusuhan di antara Anak [ Bag. 3 ]

          Alhamdulillah...segala puji bagi Allah subhanahu wa ta'ala, kita bisa kembali melanjutkan pembahasa kita seputar perhatian kita kepada anak-anak kita, ya...meskipun admin penulis ini belum punya anak, paling tidak, bisa menjadi bekal persiapan kelak dihari yang indah tatkala admin mendengar panggilan, "Papaaa...." heheheee....

          Okay, sekarang kita akan membicarakan sebuah topik yang merupakan kelanjutan dari 2 tulisan pertama pada edisi lalu, yakni "Permusuhan di antara Anak."
Pada umumnya, ada 3 jenis permusuhan yang terjadi pada anak-anak. Diantaranya adalah sebagai berikut;

a. Melindungi diri dari serangan temannya.
b. Terus-menerus memusuhi temannya agar dia menguasainya
c. Menghancurkan sebagian perabotan rumah ketika ia marah dan ia tidak mampu atau belum mapu untuk mengontrol dirinya.

          Naah, pada umumnya, permusuhan yang terjadi pada diri anak-anak yang umurnya belum memasuki sekolah, sering didorong oleh perebutan kepemilikan seperti ingin mengambil mainan orang lain atau karena mengikuti perilaku teman, saudara atau bahkan orang tuanya.

         Permusuhan tersebut juga bisa dipicu oleh waktu bermain yang terlalu panjang ketika orang tuanya tidak berada di rumah pada saat ia melakukan pemberontakan -khususnya anak laki-laki terhadap kekuasaan orang tuanya.

Senin, 02 Januari 2012

Apa yang Harus Diperbuat Jika Anak-anak Kita Bertengkar ? [ Bag.2 ]

Sikap Orang Tua Ketika Anak Bertengkar

          Insya Allah, kita akan paparkan beberapa sikap yang harus diambil oleh orang tua ketika mendapati anak bertengkar.

1. Orang tua harus ikut campur tagan ketika melihat anaknya yang ingin melukai tubuh seseorang  sehingga ancaman bahaya yang akan terjadi dapat dicegah. Caranya ialah memanggil atau menghentikan pertikaian tersebut. Kasus seperti ini terkadang sering terjadi pada anak. Adapun anak perempuan lebih cenderung untuk berteriak daripada menggunakan ototnya untuk mengekspresikan emosinya.
2. Jika keduanya telah tenang, berusahalah untuk mendengarkan sejenak penyebab perkelahian tersebut meskipun mustahil cerita tersebut benar apa adanya dan sempurna. Akan tetapi yang terpenting adalah anak merasa bahwa kita bersikap tidak memihak dan adil serta kita mendengar apa yang terbesit dalam hati mereka.
3. Jika pertikaian tersebut tidak dengan pukulan dan otot, maka kita tidak perlu terlalu cepat ikut campur dan menyelesaikannya, karena terkadang mereka butuh pertikaian dan perselisihan semacam itu. Dari perselisihan semacam itu, mereka akan mempelajari banyak hal, bahkan mereka akan mencari jalan keluar untuk menyalurkan kemampuannya dalam menyelesaikan masalah.
Jika kita selalu menguasai kondisi anak-anak, maka hubungan yang akan terbangun di antara mereka adalah semu. Mereka akan terkungkung oleh kekuasaan kita, lalu mereka akan menyerang yang lain ketika kita sedang lengah atau rasa permusuhan akan terus terpatri akibat tidak tersalurnya rasa tersebut pada masa kanak-kanak.
4. ketahuilah bahwa, tidak semua perselisihan yang terjadi di antara anak-anak itu berbahaya dan tidak akan berdampak buruk ketika mereka tumbuh dewasa.
5. Jelaskan pada anak-anak bahwa kita anti atau benci terhadap permusuhan yang terjadi di antara mereka, dan kerubutan yang terjadi akibat permusuhan tersebut. Jika seandainya perselisihan tersebut terjadi pada mainan, maka kita mungkin saja mengambil semuanya, kemudian menyatakan bahwa mainan tersebut akan dikembalikan setelah terjadi kesepakatan antara dua belah pihak.
6. Terkadang, permaslahan akan bertambah sulit jika diantara yang berselisih ada yang umurnya lebih tua di mana yang besar lebih kuat ketimbang yang kecil, sedangkan yang kecil dapat mencemaskan yang besar, khususnya ketika mereka meminta perlindungan. Hal tersebut dapat membuat yang lainnya sakit dan menangis.
7. Berusahalah untuk tetap adil kepada mereka, berikan pengertian kepada yang lebih dewasa agar ia menyayangi yang lebih kecil. Nasehatilah agar ia selalu bersabar serta sampaikan kepadanya untuk memberitahukan kita secara langsung jika ia telah berusaha bersabar namun tidak mampu menahan diri.
8. bantulah yang kecil untuk dapat menghormati orang yang lebih dewasa dan tidak membuat cemas mereka sehingga mereka akan membalas dendam.
9. Jangan terlalu cepat memberikan sanksi kepada yang bersalah, karena hal ini akan menumbuhkan rasa benci dan dendam dan terkadang kita salah memberikan sanksi sehingga akan menimbulkan keraguan di antara mereka terhadap keputusan kita pada masa mendatang.
10. Jangan membandingkan antara keduanya dengan berkata, "kakamu lebih baik darimu ketika seusiamu." Atau, "Kamu berbeda dengan kakamu, karena ia selalu mendengarkan apa yang aku katakan epadanya." jika hal tersebut dilakukan, maka akan menyebabkananak merasa bersalah dan membenci saudaranya. Semakin sering dibanding-bandingkan, akan melahirkan rasa benci dan enggan untuk mengikuti saudaranya meskipun sikapnya baik.
11. Semoga cara yang benar dalam meredam gejolak permusuhan di antara anak dapat merubah rasa benci mereka kepada perbuatan yang positif, seperti membantu orang lain atau membantu ibu dan lain sebagainya. Yang salah adalah ketika orang tua memaksakan anaknya untuk ikut berfikir seperti dirinya.
12. Seorang ibu hendaknya selalu menjaga ketenangan dirinya semampunya ketika anaknya marah atau ketika sedang bermusuhan dengan saudaranya.
13. Orang tua hendaknya menjadi teladan, karenanya mereka harus melepaskan rasa fanatisme dan gejolak masalah di hadapan anak-anaknya. Jika ada perselisihan antara ayah dan ibu, jangan diprtontonkan di depan anak, karena kejadian seperti ini akan terekam dalam memori anak dan suatu hari akan dipraktekan oleh anak.
14. Jangan biarkan anak merasakan manisnya kemenangan dengan memperlihatkan kesenangan orang tua ketika anak yang lain menangis dan marah karenanya.
15. Orang tua hendaknya membenahi diri terlebih dahulu. Sebab berapa banyak perkelahian yang terjadi pada anak disebabkan orang tuanya karena sikap tegas dan intervensi yang berlebihan. Keinginan agar anak selalu menaati perintahnya tanpa memahaminya serta penyebab lainnya adalah gejolak dan pertikaian mereka di rumah yang tak berarti( Dr.Clear fahim,"Masyakilul Athfal an-nafsiyah) -Bersambung Insya Allahu ta'ala-

 
| PPPI Miftahussalam Banyumas Jalan Raya Kejawar No.72 Banyumas Jawa Tengah - Telp.(0281)796121 / 796004 | Islamic Boarding School, in Banyumas